CALENDER

Sabtu, 03 Juni 2023

MENGENAL SEJARAH DAN ASAL USUL PERMAINAN SABUNG AYAM DI INDONESIA

Indonesia mempunyai sejarah yang amat panjang tentang domestikasi ayam. Kalau sejauh ini hanya Sungai Kuning di negara China dan lembah Indus di India yang dianggap sebagai pusat sejarah domestikasi ayam di dunia, nyatanya Indonesia memiliki kisah sejarah tentang sabung ayam.
Panjangnya sejarah interaksi manusia dan ayam di bumi Indonesia barangkali ialah kunci jawaban mengapa mitos ayam jantan begitu lekat dalam kebudayaan.  


Dengan menggunakan paradigma interpretasi simbolik, Clifford Geertz menjelaskan makna sabung ayam jago dalam masyarakat Bali. Geertz menemukan bahwa sabung ayam bukan hanya judi; itu juga merupakan simbol ekspresi status, otoritas, kepahlawanan, dan etika sosial.  

Menurut KBBI, "jago" secara leksikon berarti "ayam jantan", tetapi juga berarti "juara", "kampiun", atau "calon utama dalam pemilihan". Dalam bahasa Jawa, "jago" berarti "ayam", tetapi juga bermakna konotatif, seperti yang ditunjukkan dalam kamus bahasa Indonesia. 


Kata "jago" mungkin berasal dari bahasa Portugis, dari kata "jogo", yang dilafalkan "zhaogo" dan berarti "permainan". Istilah ini mungkin mengacu pada permainan sabung ayam yang sangat disukai orang Portugis di Nusantara. Setelah pelafalan ini, istilah ini diserap ke seluruh Nusantara dan masuk ke berbagai bahasa, seperti Melayu atau Jawa. Namun, tidak jelas kapan istilah "jago" menjadi kata serapan. 

Folklore Cindelaras dikenal dalam masyarakat Jawa. Narasi ini berbicara tentang sabung ayam dan hubungannya dengan simbol kuasa, berpusat di zaman Kerajaan Jenggala abad ke-11. Folklore Ciung Wanara juga ada di masyarakat Sunda. Itu berasal dari masa Kerajaan Galuh abad ke-8. Dua cerita rakyat ini bercerita tentang putra raja yang terbuang dan menemukan ayahnya, seorang raja, melalui sabung ayam. 

pada sumber epik Bugis La Galigo. Sawerigading, tokoh utama epik itu, juga dikabarkan menyukai sabung ayam. Menurut cerita lama, orang Bugis dianggap pemberani (tobarani) hanya jika mereka melakukan tradisi menyabung ayam (massaung manu'). Ada kemungkinan bahwa bukan hanya orang Bugis, tetapi juga orang Jawa, Bali, Sunda, dan daerah lain, ayam jantan pernah dianggap sebagai simbol keberanian atau kejantanan.


Jika cerita rakyat atau epik masa lalu dapat berfungsi sebagai sumber referensi sejarah, maka dapat disimpulkan bahwa simbolisme ayam secara historis memiliki makna sakral sebagai representasi simbolik kekuatan. Setidaknya di Bali, simbolisme sabung ayam sangat sakral.

Ketika Geertz melakukan penelitian etnografi di Bali, dia menyadari pentingnya taji. Taji, yang terbuat dari logam besi sepanjang empat atau lima inci, diikat di kedua kaki ayam hanya saat bulan gerhana atau tidak penuh. Selain itu, taji harus dirawat dengan baik oleh pemiliknya dan disimpan di tempat yang aman dari kaum perempuan.

Menurut karya Clifford Geertz, istilah "sabung" digunakan untuk menyebut ayam jantan. Dia mengatakan bahwa istilah ini pertama kali muncul dalam inskripsi di Bali pada tahun 922 M dan digunakan secara metaforis untuk menggambarkan "pahlawan", "serdadu", "pemenang", atau "orang kuat". Sayangnya, Geertz tidak menjelaskan dari mana inskripsi itu berasal. 

Geertz tidak menjelaskan sejauh mana makna sabung ayam dalam bentuk "tetajen" dan "tabuh rah" berbeda dalam konteks lokal Bali. Jelas, konteks dan makna kedua ritus sabung ayam ini berbeda. Tabuh rah adalah ritus sakral dan keagamaan, sedangkan tetajen adalah ritus sosial yang melibatkan perjudian.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengapa Lionel Messi Berselebrasi Seperti Gaya Marvel?

  Miami - Lihat, Lionel Messi masih melakukan selebrasi ala superhero Marvel seperti Thor, Black Panther. dan baru-baru ini Spider-Man . A...